Jumat, 30 Juli 2010

Betapa Miskinnya Kita

Suatu ketika seseorang yang sangat kaya,agak jumawa dan merasa selalu terpenuhi kebutuhan hidupnya, mengajak anaknya mengunjungi sebuah kampung dengan tujuan utama memperlihatkan kepada anaknya betapa orang-orang bisa sangat miskin dan betapa kayanya mereka. Mereka menginap beberapa hari di sebuah daerah pertanian yang sangat miskin.

Pada perjalanan pulang, sang Ayah bertanya kepada anaknya.'
" Bagaimana perjalanan kali ini?"
'Wah, sangat luar biasa Ayah.' sahut anaknya.
'Kau lihatkan betapa manusia bisa sangat miskin.' kata ayahnya.
'Oh iya.' kata anaknya.
'Jadi, pelajaran apa yang dapat kamu ambil?' tanya ayahnya.

Kemudian si anak menjawab, 'Saya saksikan bahwa kita hanya punya dua kucing persia kita yang mahal, ternyata mereka punya empat sapi yang gemuk dan 4 kambing yang sehat.

Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ke tengah taman, dan kita selalu krepotan membayar orang untuk merawatnya. Sementara mereka memiliki telaga yang tidak ada batasnya, yang bisa berenang kapanpun mereka mau.
Kita mengimpor lentera-lentera di taman kita dan mereka memiliki bintang-bintang yang menerangi taman meraka pada malam hari.
Kita memiliki sebidang tanah untuk tempat tinggal dan mereka memiliki ladang yang melampaui pandangan kita.
Kita punya pelayan-pelayan untuk melayani kita, tapi mereka melayani sesamanya. Kita membeli untuk makanan kita, ayah mencari uang dengan kerja keras untuk membeli beras lauk dan sayur, serta melakukan perhitunga ncermat untuk pengeluaran. Tapi mereka menumbuhkannya sendiri. Mereka memakan beras tanpa membeli karena itu hasil buah tangan mereka, memetik sayur dengan tanpa khawatir akan habis dan berbagi dengan tetangga dan kerabat mereka, mengambil telur dan susu dari ternak mereka dan mandi sepuasnya tanpa perlu risau tagihan air mereka.
Kita mempunyai tembok untuk melindungi kekayaan kita dan mereka memiliki pohon dan taman yang mengelilingi serta sahabat-sahabat untuk saling melindungi.'

Mendengar hal ini sang Ayah tak dapat berbicara. Kemudian sang anak menambahkan, 'Terima kasih Ayah, telah menunjukkan kepada saya betapa miskinnya kita.'

***

Kadang-kadang kita sering melupakan apa yang telah kita miliki dan terus memikirkan apa yang tidak kita punya. Apa yang dianggap tidak berharga oleh seseorang ternyata merupakan dambaan bagi orang lain. Semua ini tergantung dari cara pandang seseorang. Mungkin akan lebih baik jika kita bersyukur kepada Allah sebagai rasa terima kasih kita atas semua yang telah disediakan untuk kita daripada kita terus menerus khawatir untuk meminta apa yang belum kita miliki. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang bersyukur. Aamiin

[oleh: Ika Dewi Rahayu] ditulis ulang oleh Budi

Sumber : dari teman di Bukit Kemuning

Tidak ada komentar:

Posting Komentar